🚨 Antara Adrenalin dan Akurasi
“Pasien mengalami pendarahan postpartum!”
“Tensinya drop ke 70/40, segera lakukan tindakan!”
Seruan-seruan itu bukan berasal dari ruang bersalin sungguhan, tapi dari ruang simulasi kegawatdaruratan di Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa. Meski hanya simulasi, detak jantung mahasiswa berdetak seperti di situasi nyata.
🏥 Simulasi, Tapi Tegang Seperti Nyata
Simulasi kegawatdaruratan dilakukan di lab dengan kondisi menyerupai dunia klinis sesungguhnya. Mulai dari tata ruang, alat-alat medis, manekin realistis, hingga instruktur yang bertindak sebagai pasien, keluarga, atau perawat lain.
💉 Mahasiswa tidak diberi tahu skenario sebelumnya.
📋 Mereka hanya tahu: ada pasien dalam kondisi darurat dan waktu terbatas.
Situasi bisa berupa:
- 🚨 Pendarahan pascapersalinan (PPH)
- ⚡ Eklampsia dan kejang pada ibu hamil
- 💔 Asfiksia neonatorum (bayi lahir tidak bernapas)
- ❗ Retensio plasenta dan shock hipovolemik
🧠 Diuji: Ilmu, Insting, dan Ketangguhan Mental
Di ruang ini, mahasiswa tidak hanya diuji ilmunya, tetapi juga:
- 🧠 Kecepatan berpikir dalam tekanan
- 🗣️ Komunikasi efektif antar anggota tim
- ⏱️ Kecepatan dan ketepatan keputusan
- 💥 Kontrol emosi saat situasi tidak sesuai harapan
Simulasi selalu direkam dan dievaluasi. Setelah selesai, dilakukan debriefing intensif:
✅ Apa yang benar
❌ Apa yang terlambat
🧭 Apa yang harus diperbaiki
“Saat manekin bayi tidak menangis dan saya lupa langkah pertama resusitasi, saya panik. Tapi itu jadi pelajaran penting: panik itu menular. Sejak itu saya belajar tarik napas, fokus, dan bertindak.” — (Mahasiswa semester 5)
🧰 Peralatan Lengkap, Instruksi Tegas
Simulasi didukung peralatan sesuai standar klinis:
- 🩺 Stetoskop, Doppler, tensimeter digital
- 💉 Peralatan infus dan injeksi
- 👶 Manekin obstetri dan neonatus dengan fitur interaktif
- 📟 Monitor vital sign simulatif
Instruktur bertindak sebagai evaluator diam-diam, mencatat setiap langkah mahasiswa: dari komando awal hingga evaluasi akhir kondisi pasien.
💪 Kerja Tim yang Nyata
Kegiatan ini juga menanamkan kerja sama tim. Mahasiswa dituntut untuk:
- 📣 Memberikan perintah dengan jelas
- 🤝 Membagi tugas berdasarkan kompetensi
- 🧭 Mengatur alur penanganan tanpa tumpang tindih
Tanpa kerja sama, simulasi bisa berakhir dengan “kematian pasien”—dan itu cukup untuk membuat suasana jadi sangat hening, lalu reflektif.
🔁 Berulang Sampai Mahir
Simulasi tidak dilakukan sekali saja. Mahasiswa akan:
- 🔄 Mengulang skenario yang sama sampai akurat
- 🧩 Berganti peran: jadi penolong, pencatat, hingga observer
- 🎥 Menonton ulang rekaman untuk evaluasi mandiri
Kegiatan ini mengasah memori otot dan reaksi cepat—dua hal krusial saat menghadapi kegawatdaruratan sungguhan nanti.
🧭 Penutup: Menyiapkan Tangan yang Sigap dan Hati yang Tenang
Simulasi kegawatdaruratan bukan semata-mata latihan.
Ini adalah latihan hidup dan mati, tempat mahasiswa belajar bahwa setiap detik adalah peluang menyelamatkan nyawa.
“Kalau tidak terbiasa tenang di ruang simulasi, akan sulit tenang di ruang bersalin.”
Dengan kegiatan ini, kami memastikan mahasiswa tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tapi juga siap melakukannya dengan akurat dan tenang, kapan pun situasi darurat datang.

